BRMP Kalteng Lakukan Monitoring Percepatan Luas Tambah Tanam Padi di Kota Palangka Raya
PALANGKA RAYA – Dalam rangka mendukung program strategis Kementerian Pertanian, BRMP Kalteng melaksanakan kegiatan monitoring dan koordinasi percepatan Luas Tambah Tanam (LTT) padi di Kota Palangka Raya, Rabu (30/7/2025). Kegiatan ini berlangsung di rumah Bpk.Siswantoro Basuki tepatnya di Jalan Alson II, Kelurahan Bukit Tunggal Kecamatan Jekan Raya.
Pertemuan tersebut dihadiri oleh koordinator penyuluhan, KJF Korawa Palangka Raya, para penyuluh se Kota Palangka Raya, POPT Kota Palangka Raya dan Tim BRMP Kalteng. Perwakilan dari BRMP Kalteng, Dewi dalam paparannya menjelaskan tentang teknik budidaya padi di lahan sawah. Selain itu, dilakukan pula pengambilan data LTT dan penetapan target serta lahan mana saja yang berpotensi untuk di tanam padi, dan kendala yang dihadapi petani di lapangan serta solusinya.
Diskusi yang berlangsung mengemukan berbagai persoalan nyata di lapangan. Salah satunya disampaikan oleh Riko, perwakilan dari BPP Rakumpit. Ia menjelaskan bahwa 60% lahan di wilayahnya merupakan lahan berpasir yang rawan gagal tanam jika dipaksakan. Namun demikian, antusiasme petani tetap tinggi. Ia mengusulkan perlunya alat berat yang mendukung dalam pengolahan lahan dan pendampingan ekstra agar target tanam dari 20 hektar dapat terealisasi setidaknya 30–40%.
“Rata-rata petani sudah banyak yang menanam padi. Namun, masih ada beberapa yang belum mau mrnanam, hal ini di karenakan adanya kendala air atau kekeringan, tidak adanya mesin pompa dan subsidi saprodi dari pemerintah. Jika saprodi disalurkan pada pertengahan tahun, kita tidak bisa mengejar indeks pertanaman (IP) 2 atau 3. Tapi jika disalurkan awal tahun, kita bisa capai IP 2 minimal,” jelas Riko.
Masukan juga disampaikan oleh Pak Jainulah, yang menilai bahwa meskipun lahan di Rakumpit dominan berpasir, tetap ada potensi untuk budidaya padi, khususnya varietas Inpago 13 yang terbukti tahan dan berhasil ditanam di lahan kritis eks-kebun karet. Namun, ia mengingatkan bahwa sebagian masyarakat telah memanfaatkan lahannya untuk tanaman lainnya seperti hortikultura yang jauh lebih menguntungkan, sehingga perlu pemetaan lokasi serta kajian riset terlebih dahulu sebelum menetapkan lahan sebagai sawah.
“Kami membuka lahan bekas karet yang sangat kritis, membuat saluran air, dan melakukan sistem pindah tanam. Kendala yang dihadapi salah satunya adalah hama penggerek batang,” tambah Jainulah (ketua Poktan Palangka Raya Bertani)
Kegiatan ini menjadi langkah penting dalam rangka swasembada pangan khususnya percepatan luas tambah tanam padi di Kota Palangka Raya. Diharapkan, melalui sinergi antara petani, penyuluh, dan pemerintah, target ketahanan pangan nasional dapat tercapai secara berkelanjutan.
Hasil dari pertemuan tersebut yakni menetapkan target LTT padi bulan Agustus sampai Desember 2025 serta realisasi yang sudah di capai. Realisasi LT padi yang sudah terealisasi dari bulan Januari sampai Juli yakni 12,1 ha dari 50 ha (target yang di tetapkan oleh Dinas Pertanian Dan Hortikultura Provinsi Kalimantan Tengah) atau 24,2 ℅.
Dewi berharap dengan pertemuan ini selanjutnya petani dan penyuluh dapat lebih semangat lagi dalam mengejar LTT padi dan dapat di lakukan terus pertemuan seperti ini untuk saling berkoordinasi satu dengan yang lainnya.